MSF Berkontribusi pada Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat di Indonesia melalui Inisiatif E-Hub

Ansori S
Kamis, Desember 14, 2023 | 22:53 WIB Last Updated 2023-12-14T15:53:13Z
Dok. Istimewa

JAKARTA | Médecins Sans Frontières (MSF)/Dokter Lintas Batas, sebuah organisasi kemanusiaan medis internasional, memiliki komitmen global untuk memberikan bantuan medis bagi populasi dalam kondisi genting yang terkena dampak konflik, bencana, wabah penyakit, pengungsian, migrasi atau pengecualian.


MSF dengan bangga mempersembahkan pencapaian tahun pertama implementasi Proyek E-Hub (Pusat Peningkatan Kapasitas untuk Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat). Lokakarya sehari penuh yang meninjau kembali pencapaiannya di tahun 2023. Dan perencanaan tahun 2024-2026 dilakukan pada Rabu, 13 Desember 2023 di Jakarta Selatan. 


Proyek ini merupakan inisiatif baru yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam kesiapsiagaan dan respons darurat bagi pekerja layanan kesehatan dan non-layanan kesehatan serta bagi anggota masyarakat yang berkomitmen untuk terlibat dalam respons darurat medis terhadap krisis kesehatan di komunitas mereka.


Hal ini sedang dikembangkan, dilaksanakan, dan bekerja sama dengan Pusat Krisis Kesehatan (PKK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Implementasinya untuk 3 tahun ke depan akan segera diresmikan melalui Memorandum of Understanding (MoU) baru antara MSF Indonesia dan Kementerian Kesehatan untuk tahun 2024-2026. 


Pada kuartal pertama tahun 2023, Proyek E-Hub memperkenalkan program pelatihan di empat domain berbeda dalam tanggap darurat medis. Program-program ini dirancang untuk mengatasi kesenjangan kritis, yang diidentifikasi bersama dengan PKK Kementerian Kesehatan, dan memanfaatkan keahlian MSF dalam tanggap darurat medis.  


Domain tersebut mencakup (1) Kedaruratan Medis (organisasi layanan kesehatan dalam keadaan darurat, manajemen insiden korban massal, dan manajemen wabah) (2) Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) dalam konteks darurat (3) Pengelolaan Data termasuk penggunaan Sistem Informasi Geografis (GIS) dalam keadaan darurat dan (4) Kesehatan Lingkungan selama keadaan darurat (dengan fokus pada pengelolaan limbah medis di fasilitas layanan kesehatan namun akan segera diperluas ke bidang air, kebersihan dan sanitasi di tingkat masyarakat). 


MSF telah bekerja selama lebih dari 50 tahun dan saat ini beroperasi di lebih dari 70 negara. Ketika keadaan darurat atau bencana seperti banjir atau gempa bumi terjadi di mana pun di seluruh dunia, MSF sering kali menjadi salah satu organisasi pertama yang menyediakan perawatan dan dukungan medis penting bagi masyarakat termasuk akses terhadap air bersih, sanitasi, makanan, dan tempat tinggal.  


Dalam beberapa tahun terakhir, tim MSF di Indonesia telah terlibat dalam tanggap darurat medis terhadap berbagai bencana melalui koordinasi dengan otoritas kesehatan provinsi, kabupaten dan daerah, serta berkoordinasi dengan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan yang memimpin respons Klaster Kesehatan.


Dengan pengalaman luas ini, tim MSF yakin dapat mengembangkan program peningkatan kapasitas yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat terdampak di Indonesia. 


“Di Indonesia, MSF telah sepakat dengan Kementerian Kesehatan untuk fokus pada peningkatan kapasitas, guna memperkuat kapasitas kesiapsiagaan dan respons darurat. Jadi, itulah cara kami mengembangkan proyek E-Hub yang benar-benar berfokus pada peningkatan kapasitas bagi para pekerja tanggap darurat, medis dan non-medis, yang bekerja untuk organisasi atau komunitas, yang akan terpanggil untuk membantu dalam respons darurat medis terhadap krisis kesehatan. Kami menyambut baik upaya yang dilakukan oleh Pusat Krisis Kesehatan dalam membentuk pasukan kesehatan cadangan melalui database Pusat Krisis Kesehatan, yang akan memungkinkan mobilisasi tim medis darurat lebih cepat sebagai bagian dari respons yang lebih luas,” kata Dr Roger Teck, Direktur MSF Indonesia, dalam sambutan pembukaannya. 


Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dr. Sumarjaya, SKM, MM, MFP, C.F.A menyatakan, kementerian Kesehatan berkomitmen untuk menciptakan sistem yang kuat dan efisien dalam mitigasi, kesiapsiagaan dan respon penanggulangan bencana di bidang kesehatan krisis.


"Kami telah bekerja sama dengan banyak mitra, pemerintah, dan non-pemerintah, nasional dan internasional, terutama pada fase pra krisis kesehatan. Salah satu mitra kami adalah MSF. Proyek E-Hub merupakan salah satu program implementasi yang dipimpin oleh MSF Indonesia melalui Pusat Krisis Kesehatan, untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kapasitas para petugas kesehatan, untuk merespons keadaan darurat secara profesional, efektif dan efisien,” ujarnya.


Beliau juga menambahkan, Pusat Krisis Kesehatan mengapresiasi proyek MSF E-Hub yang kini telah berjalan selama satu tahun. MSF telah memberikan pelatihan dalam keadaan darurat medis, dukungan kesehatan mental dan psikososial, pengelolaan data dan kesehatan lingkungan dalam keadaan darurat bagi petugas kesehatan dan non-petugas kesehatan di empat kabupaten, di Provinsi Jakarta dan Banten. 


Melalui lokakarya ini, tim MSF E-Hub menampilkan pencapaiannya, berbagi praktik baik, serta rencana kegiatan E-Hub yang akan datang. Pada tahun ini, terdapat 18 sesi pelatihan yang dilakukan dengan jumlah peserta pelatihan sebanyak 466 orang di Provinsi Banten dan Jakarta. Pesertanya terdiri dari petugas tanggap darurat puskesmas dan rumah sakit, staf dinas kesehatan kabupaten dan beberapa organisasi di provinsi DKI Jakarta dan Banten. 


Dr Roger Teck menekankan tujuan lokakarya ini, “Kami ingin berbagi dan melakukan refleksi dengan mitra-mitra kami di sini mengenai pencapaian - pencapaian serta tantangan-tantangan dan pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik sambil mengundang mitra-mitra kami untuk mengungkapkan harapan dan saran mereka. Tim MSF E-Hub juga berharap dapat membangun lebih banyak kemitraan di bidang ini. 2024.” 


Salah satu peserta pelatihan, dr. Istianah Hariyanti dari Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, mengatakan bahwa pelatihan darurat bencana yang dilakukan MSF sangat bagus dan berbeda.


Dia menekankan fokus pelatihan unik ini pada konteks kejadian nyata dan pengalaman langsung dalam situasi bencana. dr. Istianah memuji metodologi pelatihan yang komprehensif, yang tidak hanya memberikan keterampilan klinis medis tetapi juga memberikan panduan tentang cara berkoordinasi secara efisien di tengah skenario bencana yang menantang.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • MSF Berkontribusi pada Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat di Indonesia melalui Inisiatif E-Hub

Tidak ada komentar:

Trending Now

Iklan