Diduga Tidak Ada Pegawasan, Proyek Pembangunan Jalan Penghubung Wewuluh-Mekarsari Amburadul

Nampak pemasangan batu pada agregat yang tidak menggunakan batu basecose, namun batu boncos (Dok. stc)

SERANG | Kegitan proyek pembangunan jalan Kabupaten di jalan penghubung Wewuluh-Mekarsari Kecamatan Binuang dan Carenang, Kabupaten Serang-Banten diduga minim pengawasan dan berdampak pada hasil pekerjaan yang berantakan dan asal-aslan.


Pantauan serangtimur.co.id di lokasi, Selasa (17/8/2021) yang lalu, nampak jelas galian untuk tebal hamparan agregat LPA/LPB tidak mencapai 20 cm, ditambah lagi ukuran batu agregat lapisan pondasi bawah (LPB) untuk perkerasan atau pondasi bawah diduga tidak sesuai spesifikasi, dan terlihat pada bahan material batu yang terhampar.


Kendati demikian, saat serangtimur.co.id berkali-kali mendatangi lokasi untuk mengkonfirmasi pihak pelaksana dan konsultan terkait tekhnis di lapangan, namun hingga saat ini Kamis (26/8/2021), belum pernah nampak pelaksana maupun konsultan di lapangan. Bahkan diduga kuat adanya oknum wartawan yang membeckup proyek tersebut dengan cara ikut ngesub material di proyek tersebut.


Menyikapi hal itu, Wahyu Sekretaris Pemuda Pancasila PAC Binuang, terkait pekerjaan itu memang terlihat asal-asalan. Dalam pekerjaan itu juga batu yang digunakan pada agregat seperti batu belah bukan batu basecose yang semestinya digunakan.


"Proyek di jalan penghubung Wewuluh-Mekarsari, kami lihat dalam pelaksanaannya diduga asal saja. Nampak terlihat tidak ada marka jalan, kemudian pada pengerjaan agregatnya menggunakan batu besar-besar. Saya mengharapkan pada DPUPR Kabupaten Serang agar menjadi perhatian, jangan sampai pekerjaan ini meniadakan kualitas pembangunannya dan hanya cari keuntungan semata," tandasnya.


Menanggapi hal itu, Kertua Forum jurnalis Serang Raya (FJSR) Ansori, mengatakan bahwa proyek pekerjaan yang sedang dilaksanakan oleh PT. Cahaya Dwipusaka Mandiri, diduga tidak dikerjakan dengan serius.


Apalagi, lanjut Ansori, proyek ini diduga memperkerjakan orang yang bukan pada ahlinya. Dan itu terlihat jelas, soal adanya seseorang yang diduga sebagai humas yang berprofesi sebagai oknum, apakah dia oknum wartawan atau dia oknum LSM atau juga yang ikut mengerjakan proyek tersebut.


"Saya melihat dalam pekerjaan itu ada oknum yang diduga mengaku sebagai aktivis juga berinisial (US-red), entah sebagai yang membeckup atau ikut ngesub dipekerjaan itu, sehingga wajar pelaksana atau konsultan selalu tidak ada dilokasi. Bisa saja kan, ulah oknum-oknum itu, pekerjaan yang sedang dilaksanakannya dianggap aman dan tanpa kontrol dari rekan-rekan wartawan, aktivis dan atau masyarakat secara luas," ujarnya.


Sehingga lanjut Ansori, wajar material untuk agregat yang di kirim (menggunakan-red) materail asal-asalan tanpa memperhatikan kualitasnya.


"Kita lihat saja pakai mata, itu agregat menggunakan materaial apa, lalu kenapa dibiarkan. Saya rasa jangan sampai proyek ini jadi bahan bacakan atau untuk mencari keuntungan segelitir oknum yang tidak bertanggungjawab. Saya tegaskan konsultan pengawas harus tegas mengoreksi pekerjaan itu, dan pelaksana harusnya selalu ada diloksi kegitan. Meskipun itu masih pekerjaan minor, itu sama dibayar menggunakan uang rakyat," tandasnya.


"Jika pekerjaan tidak segera di perbaiki, maka kuat dugaan proyek ini hanya untuk proyek bacakan," tegasnya.


Untuk diketahui pekerjaan proyek penghubung jalan Wewuluh-Mekarsari yang di kerjakan oleh PT.CAHAYA DWIPUSAKA MANDIRI yang bersumber dari DTU-BANGUB-APBD Kabupaten Serang,Tahun anggaran 2021, dengan nomor kontrak: 620/07-PK.HS.4425245/SPK/JL.WWLH-MKSR/KPA-BM/DPUPR/2021 dengan nilai kontrak Rp. 4.500.000.000; dengan jenis pekerjaan Betonisasi dengan volume panjang 1.435 M dengan lebar 4,5 M dan konsultan pengawas PT.TANOERAYA KONSULTAN diduga amburadul.


(*/Nurlan)

Post a Comment

0 Comments