![]() |
| Dok. Festival Peh Cun di Cisadane |
Tradisi 300 tahun masyarakat Tionghoa Benteng ini tak hanya disaksikan warga, tapi juga dikaji langsung oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Buddhi Dharma (UBD) sebagai bagian mata kuliah Dinamika Budaya.
Puluhan mahasiswa semester 2 Ilmu komunikasi Universitas Buddhi Dharma bersama dosen pengampu Tia Nurapriyanti, hadir sejak pagi di Pendopo Peh Cun. Mereka melakukan observasi etnografi komunikasi untuk memahami makna Pehcun Benteng dari perspektif ilmu komunikasi dan budaya.
"Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar dari buku. Lewat dinamika budaya, mereka langsung terjun melihat, dengar, dan tanya ke sesepuh Boen Tek Bio. Bagaimana bahasa komando nakhoda, ritual do'a, sampai interaksi penonton lintas etnis," ujar Tia Nurapriyanti saat mendampingi mahasiswa.
Menurut Tia Nupariyanti, keterlibatan mahasiswa Ilmu Komunikasi UBD menunjukkan kampus punya peran aktif merawat budaya lokal.
"Festival Tradisi Peh Cun Benteng oleh Boen Tek Bio jadi kelas terbuka paling nyata tentang akulturasi, identitas, dan toleransi di Banten," tukasnya.
Ritual dimulai dengan doa dan sambutan dari Ketua Perkumpulan Boen Tek Bio, Romo Rubi Satamako, menjelaskan kekhasan Pehcun Benteng: “Komando nakhodanya pakai Hokkien Benteng campur Melayu Tangerang. Ini bukti kami sudah berakar di Banten. Boen Tek Bio tugasnya merawat, biar anak cucu nggak lupa.”
![]() |
Mahasiswa Universitas Buddhi Dharma mencatat 8 unsur komunikasi model SPEAKING Dell Hymes langsung di lapangan.
Mulai dari “Setting” di Sungai Cisadane, “Participants” sesepuh-nakhoda-penonton, hingga “Genre” yel-yel dan doa. Data ini akan jadi bahan laporan akhir mata kuliah sekaligus publikasi ilmiah mahasiswa.
“Seru banget Bu. Ternyata komunikasi itu tidak cuma di kelas. Di sini, 1 teriakan ‘Hia!’ dari nakhoda bisa bikin 20 orang dayungnya kompak. Itu dinamika budaya hidup," kata Ferry, mahasiswa Ilkom UBD.
Sementara itu, salah sutu suhu mengatakan, warga pribumi dan Tionghoa merayakan bersama. Penonton warga Karawaci, mengaku senang ada mahasiswa yang mau belajar tradisi lokal.
“Bagus. Biar anak muda sekarang tau Pehcun itu apa, bukan cuma tau TikTok,” kata salah satu Suhu Kelenteng yang ada di lokasi.
Disisi lain, Ibu ketua umum perkumpulan Boen Tek Bio mengapresiasi kehadiran Mahasiswa dan dosen Universitas Buddhi Dharma.
"Kami senang kampus mau datang. Selama Sungai Cisadane ada, selama ada anak muda mau belajar, Pehcun Benteng akan terus hidup," Ibu Ketua Umum boen tek bio.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar