![]() |
| Dok. Ilustrasi AI |
Di Kecamatan Kibin, dari 9 Desa, setidaknya ada 6 Desa yang juga akan menggelar pilkades serentak, Desa Ketos, Sukamaju, Negara, Cijeruk, Ciagel dan Tambak.
Dari 6 Desa yang ada, ada dua Desa yang diduga dalam genggaman Oligarki. Dana Miliaran untuk pilkades bakal menjadi penentu kemenangan salah satu calon di dua Desa tersebut.
Oligarki berani memberikan modal miliyaran asal bisa memperoleh SPK dari sang pemenang. Sementara, warga hanya akan diminta memenuhi kewajibannya memilih pada 27 Oktober 2027 mendatang.
Sebab, dua orang (H.Lili dan H. Mahmud) pemegang SPK penguasaan limbah di PT. Nikomas Gemilang saat ini, diduga kuat bagian dari yang ikut mendanai Pilkades pada tahun sebelumnya, baik itu Desa Tambak atapun Desa Cijeruk.
Tradisi Oligarki ini rupanya sudah ada sejak lama, bahkan turun temurun saat perhelatan Pilkades digelar. Desa yang masuk zona industri jadi lahan empuk para Oligarki, sementara hak warga hanya dibeli untuk menguntungkan Kades terpilih.
Yang saat ini sudah terasa soal adanya dugaan keterlibatan Oligarki, yakni di Desa Tambak dan Desa Cijeruk Kecamatan Kibin. SPK Penguasaan limbah di PT. Nikomas Gemilang jadi modal salah satu calon Kades, agar bisa membeli suara masyarakat.
Padahal, jika dikelola sendiri limbah PT. Nikomas Gemilang bisa memberikan manfaat bagi banyak masyarakat. Itupun jika Kades yang terpilih memiliki hati yang bersih, dan punya keinginan untuk memajukan dan mensejahterakan warganya.
Namun apalah daya, kekuasaan Oligarki tidak bisa merubah keadaan, masyarakat yang harusnya sejahtera, cuma gigit jari jadi penonton, bahkan sialnya menjadi tenaga kerja di Desanya sendiri harus pakai uang. Apalagi bukan bagian dari relawan tim Oligarki.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar