Menggugah Nurani Ekologis dari Warga hingga Pengurus Desa

Ansori S
Jumat, Juni 05, 2026 | 19:08 WIB Last Updated 2026-06-05T12:08:30Z
Penulis: Mochdar Soleman (Akademisi Universitas Nasional) 
Kali ini saya melakukan perjalanan dari kampus Universitas Nasional, Pejaten, Pasar Minggu menuju Desa Linduk, Kecamatan Pontang Kabupaten Serang, setibanya di Desa Linduk sebuah pemandangan di Desa Linduk hari ini menyisakan perih yang mendalam didada kita. 


Di satu sisi, mata kita dimanjakan oleh hamparan persawahan yang hijau subur, membentang laksana permadani alam yang menjanjikan kemakmuran. 


Akan tetapi, dilain sisi tepatnya hanya selemparan batu terdapat kenyataan yang kontras mengoyak pemandangan yang estetik dan akal sehat.


Terhampar tumpukan sampah plastik yang menggunung di bahu jalan aspal, berceceran merayapi parit-parit sawah, bahkan sebagian lainnya mengambang keruh menyumbat saluran irigasi yang mengalirkan urat nadi pertanian petani desa Linduk.


Sebuah potret muram dipandang dari kedua sisi yang terekam di Desa Linduk ini bukanlah sekadar "masalah estetika visual". Ini adalah cermin retak yang memantulkan krisis nurani ekologis kita bersama.


"Egoisme Plastik dan Tragedi Bersama"


Cobalah kita jujur pada diri sendiri. Bahwasanya plastik-plastik merah, biru, dan putih yang menumpuk di tepi jalan itu tidak berjalan sendiri ke sana, sejatinya sampah-sampah itu dibawa oleh tangan-tangan yang enggan bertanggung jawab atas sisa konsumsinya.


Ada pembiaran kolektif yang akut di tengah masyarakat kita. Rumah-rumah kita mungkin bersih menyala, sapuan lantai kita mungkin tanpa noda, namun ketika gerbang pekarangan dilewati, alam bebas seolah dianggap sebagai "tong sampah raksasa" yang tanpa batas.


Membuang sampah ke pinggir jalan atau membiarkannya menyumbat saluran air adalah bentuk pengkhianatan terhadap bumi yang memberi kita makan.


Saluran air yang tersumbat sampah di Linduk bukan sekadar menghalangi jalannya air, melainkan menimbun bom waktu berupa pendangkalan, sarang penyakit, hingga racun mikroplastik yang perlahan meresap ke dalam tanah sawah tanah tempat padi yang kita makan setiap hari tumbuh. Bagaimana mungkin kita mengharapkan berkah dari tanah yang kita racuni sendiri dengan limbah domestik?


Kesadaran lingkungan bukanlah teori akademis yang muluk-muluk di ruang kuliah. Ia bermula dari tindakan sederhana: menahan diri untuk tidak melempar satu kantong plastik ke parit, dan mendidik anak-anak kita bahwa membuang sampah sembarangan adalah tindakan yang memalukan.


"Menggugah peran Pengurus Lingkungan"


Namun, menyalahkan warga sepenuhnya tentu merupakan simplifikasi masalah yang tidak adil. Di sinilah kita harus mengetuk pintu para pengurus lingkungan mulai dari tingkat RT, RW, hingga jajaran Pemerintah Desa Linduk. 


Keberadaan tumpukan sampah di ruang publik yang begitu mencolok menandakan ada mata rantai manajemen sampah yang putus.


Pengurus lingkungan tidak boleh lagi bertindak sekadar sebagai penonton pasif atau pembuat papan imbauan formalitas "Dilarang Membuang Sampah di Sini" yang kerap diabaikan. Pemimpin lokal harus hadir sebagai dirigen gerakan perubahan.


Pertanyaannya kini "Ke mana sistem pengelolaan sampah desa mengalir?" Apakah sudah ada fasilitas tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang layak? 


Bagaimana sistem pengangkutannya? Tanpa adanya alternatif wadah dan sistem penjemputan sampah yang teratur, warga akan terus mencari jalan pintas yang paling mudah yakni bahu jalan dan parit.


Dimana ketegasan regulasi lokal? 


Peraturan desa (Perdes) yang disertai sanksi sosial atau denda administratif harus mulai berani ditegakkan secara konsisten demi memberikan efek jera.


"Kolaborasi Total demi Linduk yang Bermartabat"


Menyelamatkan lingkungan Desa Linduk dari kepungan sampah membutuhkan kesepakatan sosial baru (social contract) yang kokoh antara warga dan pengurus lingkungan. 


Sejatinya pengurus desa sudah memfasilitasi infrastruktur pembuangan yang memadai dan memelopori edukasi pemilahan sampah secara berkala, begitu juga ditambah dengan pembuatan bak sampah mahasiswa Himajip FISIP Universitas Nasional 


Namun di sisi lain, warga masyarakat sejatinya wajib menyambutnya dengan disiplin kolektif dan gotong royong secara aktif. 


Perlu kiranya gerakan kebersihan yang tidak hanya menjadi sebuah program musiman belaka, melainkan harus bertransformasi menjadi gaya hidup dan identitas orang Linduk.


Jalan aspal di antara sawah hijau Linduk itu seharusnya menjadi jalur peradaban yang membanggakan bagi siapa pun yang melintasinya, bukan galeri pembuangan akhir yang memajang kelalaian kolektif kita.


Menjaga Linduk tetap bersih adalah cara kita menghargai alam, menghormati tetangga, dan yang terpenting, menyelamatkan masa depan anak-cucu kita dari warisan tanah yang tercemar. 


Waktu untuk saling menunjuk telah habis. Sekarang adalah waktunya memungut sampah kita sendiri, menata sistemnya, dan mengembalikan kesucian tanah Pontang

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menggugah Nurani Ekologis dari Warga hingga Pengurus Desa

Tidak ada komentar:

Trending Now

Iklan