![]() |
| Oleh : Moh. Fiqry Al Kadafi |
Melalui berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari bantuan luar negeri, investasi asing, pertukaran akademik, hingga transfer teknologi, negara memperoleh akses terhadap sumber daya dan pengetahuan yang dapat mempercepat proses pembangunan.
Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah Indonesia benar-benar sedang belajar dari dunia, atau hanya menjadi pengguna dari apa yang diciptakan dunia?
Konsep Think Global, Act Local menawarkan perspektif menarik dalam menjawab pertanyaan tersebut. Berpikir global berarti membuka diri terhadap inovasi, pengalaman, dan praktik terbaik yang berkembang di berbagai negara.
Sementara bertindak lokal berarti menyesuaikan seluruh pengetahuan tersebut dengan realitas sosial, budaya, ekonomi, dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Sayangnya, dalam banyak kasus, yang terjadi justru sebaliknya.
Kita sering kali terpesona pada keberhasilan suatu sistem di negara lain tanpa memahami konteks yang melatarbelakanginya.
Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai proyek pembangunan berbasis kerja sama internasional. Tidak sedikit bantuan teknologi modern yang pada awalnya dianggap sebagai solusi bagi berbagai persoalan nasional.
Mesin pertanian canggih, sistem digitalisasi pelayanan publik, hingga berbagai perangkat teknologi hasil kerja sama luar negeri hadir dengan harapan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Namun, setelah proyek berakhir, sebagian di antaranya justru kehilangan fungsi karena minimnya kemampuan sumber daya manusia lokal untuk mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transfer teknologi tidak selalu identik dengan transfer pengetahuan. Kita mungkin menerima alatnya, tetapi belum tentu menguasai ilmunya. Kita mungkin menikmati hasilnya, tetapi belum tentu memahami proses di baliknya.
Akibatnya, ketika dukungan dari pihak luar berakhir, berbagai program yang semula dianggap berhasil justru mengalami stagnasi.
Di sektor pendidikan tinggi, situasi serupa juga dapat ditemukan. Banyak perguruan tinggi berlomba-lomba menjalin kerja sama internasional dan mengejar standar global. Secara prinsip, hal tersebut merupakan langkah yang positif.
Namun, kerja sama internasional seharusnya tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau peningkatan citra institusi.
Esensi sesungguhnya terletak pada bagaimana kerja sama tersebut mampu meningkatkan kualitas riset, memperkuat kapasitas dosen dan mahasiswa, serta menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.
Kita dapat belajar dari negara-negara seperti Korea Selatan dan Singapura. Keduanya pernah berada pada posisi sebagai negara berkembang yang membutuhkan bantuan dan pengetahuan dari luar.
Namun, mereka tidak berhenti sebagai penerima manfaat. Mereka menjadikan setiap kerja sama sebagai sarana pembelajaran untuk membangun kapasitas nasional.
Hasilnya, negara-negara tersebut kini tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen inovasi yang diperhitungkan dunia.
Indonesia seharusnya mengambil pelajaran yang sama. Setiap investasi asing harus diikuti dengan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal. Setiap proyek internasional harus menghasilkan pengetahuan yang dapat diwariskan kepada masyarakat.
Setiap kerja sama akademik harus mampu melahirkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Dengan kata lain, keberhasilan kerja sama internasional tidak boleh diukur hanya dari jumlah dana yang masuk, tetapi dari seberapa besar kemampuan nasional yang berhasil dibangun.
Pada akhirnya, kerja sama internasional bukanlah tujuan, melainkan alat. Tujuan utamanya tetaplah kemandirian bangsa. Indonesia membutuhkan keterbukaan terhadap dunia, tetapi juga memerlukan keberanian untuk mengembangkan solusi berdasarkan karakteristik dan kebutuhan sendiri.
Karena sejatinya, kemajuan suatu negara tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia mengimpor pengetahuan, melainkan oleh kemampuannya mengolah pengetahuan tersebut menjadi kekuatan yang lahir dari dalam negeri.
Think Global, Act Local bukan sekadar slogan. Ia adalah pengingat bahwa bangsa yang maju bukanlah bangsa yang meniru dunia, melainkan bangsa yang mampu belajar dari dunia untuk membangun dirinya sendiri.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar