Mengenal Istilah Ibu dan Anak Gunung Krakatau, Bukan Sekadar Sebutan, Ini Sejarah Gunung Api di Selat Sunda

Ansori S
Jumat, September 11, 2026 | 17:10 WIB Last Updated 2026-09-11T10:10:54Z
Dok. Anak Gunung Krakatau
BANTEN | Nama Krakatau sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Namun, masih banyak yang bertanya: apa sebenarnya yang dimaksud dengan "Ibu Krakatau dan Anak Krakatau"


Istilah tersebut berkaitan dengan sejarah panjang aktivitas vulkanik di Selat Sunda.


KRAKATAU LAMA, YANG SERING DISEBUT IBU KRAKATAU


Sebelum lahirnya Gunung Anak Krakatau, terdapat kompleks gunungapi Krakatau yang mengalami letusan dahsyat pada tahun 1883.


Letusan besar tersebut menyebabkan perubahan sangat besar pada tubuh gunungapi dan membentuk kawasan kaldera.


Karena itu, dalam penyebutan masyarakat, Krakatau sebelum kelahiran Anak Krakatau kerap dianalogikan sebagai Ibu, sedangkan gunungapi baru yang muncul kemudian disebut Anak. 


Namun, perlu dipahami bahwa Ibu Krakatau bukan nama resmi gunungapi dalam terminologi pemantauan vulkanologi.


LAHIRNYA ANAK KRAKATAU


Setelah letusan besar 1883, aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau tidak benar-benar berhenti.


Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi pasca-1883 mulai membangun tubuh gunungapi baru sejak 1927, ketika tubuh gunungapi tersebut masih berada di bawah permukaan laut. Gunung itu kemudian muncul ke permukaan pada 1929 dan dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.


Dengan kata lain, Anak Krakatau bukan sekadar istilah kiasan. Ia merupakan gunungapi muda yang tumbuh di dalam kawasan kaldera Krakatau setelah peristiwa besar tahun 1883.


KENAPA DISEBUT ANAK


Penyebutan Anak Krakatau menggambarkan hubungan geologisnya dengan kompleks Krakatau sebelumnya.


Sederhananya:


Krakatau lama letusan besar 1883 dan terbentuk kawasan kaldera, aktivitas vulkanik berlanjut, muncul gunungapi baru yang disebut Gunung Anak Krakatau.


Gunung Anak Krakatau kemudian terus mengalami proses pembangunan tubuh gunungapi melalui aktivitas erupsi.


ANAK KRAKATAU MASIH AKTIF


Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang terus dipantau oleh Badan Geologi/PVMBG.


Pada 2 Juli 2026, Badan Geologi melaporkan erupsi Gunung Anak Krakatau dan menaikkan tingkat aktivitasnya dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).


Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat agar informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau diperoleh dari sumber resmi dan tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan video atau informasi yang belum terverifikasi.


IBU DAN ANAK KRAKATAU, SEBUAH CERITA GEOLOGI


Istilah Ibu dan anak sebenarnya membantu masyarakat memahami bahwa Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah yang tidak terpisahkan dari kompleks Krakatau.


Krakatau menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah gunungapi dapat mengalami perubahan besar, kemudian aktivitas vulkanik membentuk tubuh gunungapi baru.


Karena itu, ketika masyarakat menyebut Ibu Krakatau dan Anak Krakatau, istilah tersebut sebaiknya dipahami sebagai penyebutan populer untuk menjelaskan hubungan sejarah dan geologi, bukan berarti secara ilmiah terdapat gunung bernama resmi Ibu Krakatau. 


Krakatau punya sejarah, anak Krakatau terus tumbuh dan aktivitasnya tetap harus dihormati serta dipantau.


CATATAN PENTING


Masyarakat yang berada di wilayah Banten dan Lampung, khususnya kawasan pesisir Selat Sunda, sebaiknya mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi/PVMBG, MAGMA Indonesia, BMKG, dan BPBD apabila terjadi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mengenal Istilah Ibu dan Anak Gunung Krakatau, Bukan Sekadar Sebutan, Ini Sejarah Gunung Api di Selat Sunda

Tidak ada komentar:

Trending Now

Iklan