![]() |
| Dok. Dzikiran Rutin |
Acara rutin tersebut diawali dengan pembukaan pembacaan lafadz Bismillah dan lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh KH. Samsuri asal Ragas Purwodadi.
Dalam sambutan dan tausiyahnya, Pendiri Majelis Dzikir As-Sohibulkiah Kh. Muhammad Abdul Rouffurokhim menekankan pentingnya memperkuat keimanan dan ketauhidan, bukan sekadar lisan berdzikir.
Ia mengibaratkan dzikir tanpa ilmu, seperti sayur tanpa garam, hampa dan kopong.
"Jangan sampai kita seperti melatih burung beo, hanya bisa mengucap Laa Ilaaha Illallah tapi tidak tahu maknanya. Kita harus mantapkan ketauhidan dan keimanan kita," tegasnya di hadapan jama'ah.
Ia juga menyampaikan pesan agar jamaah selalu memelihara kepercayaan kepada Allah SWT, karena lafadz Laa Ilaaha Illallah adalah kunci surga. Sebagaimana disebutkan, seorang pendosa sekalipun jika di akhir hayatnya mampu mengucapkan kalimat tauhid dengan penuh keimanan, maka akan masuk surga.
Pada kesempatan itu, ia juga mengusulkan agenda baru, yakni pembacaan kitab kuning atau kajian hukum agama (fikih, tauhid, syariat) setiap malam Jumat pukul 19.00 WIB sebelum dzikir dimulai.
"Kalau tanpa kajian kitab, dzikirnya kurang plong. Pola pikir kita harus diluruskan dengan ilmu," ujarnya.
Setelah sambutan dan tausiyah, acara dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin bersama-sama secara berjamaah, kemudian dzikir Laa Ilaaha Illallah sebanyak 1000 kali yang menggema khidmat di area makam keramat.
Rangkaian dzikir ditutup dengan doa penutup oleh Ustadz Ntus.
Sebagai bentuk kepedulian, di akhir acara Pendiri Majelis Dzikir As-Sohibulkiah KH. Muhammad Abdul Roufurrokhim membagikan sodakoh kepada anak yatim-piatu, para janda, serta seluruh jamaah yang hadir.
Kegiatan ini rutin digelar sebagai wujud pelestarian tradisi dzikir warisan ulama terdahulu dan mempererat silaturahmi antar jama'ah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar