Rahasia Tanah Subur Ala Sekjen FORTEGIF: Bukan Kasih Makan Tanaman, Tapi Kasih Makan Tanahnya

Ansori S
Kamis, Oktober 15, 2026 | 15:25 WIB Last Updated 2026-10-15T08:47:17Z
Foto: Istimewa
SERANG | Pupuk kimia mahal tapi hasil panen begitu-begitu saja? Mungkin kita salah prinsip selama ini. 


Hal itu diungkapkan Bahar Rahman, Sekretaris Jenderal Forum Tani Organik Terpadu Indonesia (FORTEGIF) di bawah kepemimpinan Ketua Umum Sugeng Suratno, saat menggelar workshop pembuatan pupuk organik di Sukajadi, Kragilan, Kabupaten Serang, Rabu

(14/10/2026).


Menurut Bahar, prinsip dasar bertani bukanlah memberi makan tanaman, melainkan memberi makan tanah agar subur.


"Tanah yang subur akan melahirkan tanaman yang subur. Prinsip petani itu sederhana: ada matahari, air, oksigen, dan nutrisi. Nah, nutrisi itu harus dimasak dulu agar bisa dimakan tanaman," ujar Bahar.


Bahar menjelaskan, yang memasak bahan organik menjadi nutrisi adalah mikroba. Nutrisi yang dihasilkan berupa unsur hara makro dan mikro seperti NPK, magnesium, kalsium dan lainnya.


"Karena itu kita tidak hanya membuat pupuk, tapi membuat katalis, penghubung antara tanah dan tanaman. Bahkan benteng pertahanan tanaman seperti pestisida hayati dan nabati juga kita buat sendiri," jelasnya.


Keunggulan pupuk organik ini, kata dia, mampu mengembalikan kesuburan tanah, menstabilkan pH, dan mengurai residu kimia yang selama ini membuat tanah menjadi asam dan keras.


"Kalau pH tanah di bawah 6,5, seberapa banyak pun pupuk kimia diberikan, tidak akan dimakan tanaman. Kelemahan pupuk sintetik kimia adalah membuat tanah asam dan keras," tegasnya.


Yang menarik, semua bahan pupuk organik ini ada di sekitar petani. Mulai dari limbah sampah, air cucian beras, air kelapa tua, molase, hingga gulma dan rumput liar di sawah.


Bahar mencontohkan, mereka menyiapkan 8 drum dengan kapasitas masing-masing 100 liter, total 800 liter larutan mikroba alami yang bisa jadi dalam 12-48 jam.


Bahkan untuk pupuk cair premium setara produk pabrikan, cukup dari bahan sederhana seperti kacang kedelai, beras ketan, molase dan nanas.


"Untuk 20 liter air, cukup 3 sendok saja untuk di-spray ke tanaman. Kalau dikocor ke tanah cukup 7 sendok. Sangat hemat. Modal sedikit, hasil lebih baik," ungkapnya.


Bahar mengklaim, pertanian organik 10-30 persen lebih subur dibandingkan kimia, dan semakin lama digunakan, tanah akan semakin bagus seperti hutan.


"Semakin lama kita bertani organik, tanah semakin subur, bukan semakin rusak. Ke depan kita akan terus lakukan pendampingan jangka panjang agar tanah di Kragilan khususnya kembali subur," pungkasnya.


(*/Trisno) 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rahasia Tanah Subur Ala Sekjen FORTEGIF: Bukan Kasih Makan Tanaman, Tapi Kasih Makan Tanahnya

Tidak ada komentar:

Trending Now

Iklan