![]() |
| Dok. Seorang Ibu Datang dari Batam ke Polda Banten tuntut keadilan |
Senin (19/10/2026), seorang ibu bernama Anita Bertawaty harus terbang dari Batam ke Mapolda Banten hanya untuk menanyakan kejelasan kasus anaknya yang sudah setahun mandek di Polresta Tangerang.
Korban adalah SD (29), seorang bidan warga Cikupa. Ironisnya, korban dikeroyok oleh 4 orang saat kondisinya baru melahirkan dengan bayi usia 1,5 bulan.
Fakta bahwa korban adalah tenaga kesehatan dan ibu baru melahirkan, serta laporan yang sudah berjalan satu tahun tanpa kepastian hukum, menjadi pertanyaan besar terhadap profesionalisme penyidik Polresta Tangerang.
Di momen pergantian Kapolda Banten yang baru Irjen Pol Hendra Kurniawan dan Wakapolda baru, aksi Anita menjadi alarm keras.
Dengan hanya berbekal karton tulisan tangan dan baju merah, ia berdiri di gerbang Mapolda Banten. Bukan untuk membuat keributan, tapi untuk menagih hak dasar warga negara: kepastian hukum.
"Setahun tidak jelas. Saya dari Batam jauh-jauh ke sini karena di Polresta Tangerang tidak ada kejelasan," kata Anita.
Seorang ibu ini harus mengeluarkan biaya dan tenaga dari Batam ke Serang hanya untuk mendapatkan informasi perkembangan perkara pengeroyokan.
Dan mengapa kasus dengan 4 terduga pelaku pengeroyokan terhadap seorang ibu yang baru melahirkan bisa mandek selama satu tahun.
Hingga berita ini diturunkan, baik Polresta Tangerang maupun Polda Banten belum memberikan keterangan resmi. Publik kini menunggu gebrakan Kapolda Banten yang baru untuk membuktikan komitmen Polri bersama masyarakat bukan hanya slogan.
Kasus ini harus menjadi evaluasi serius. Jika kasus pengeroyokan dengan korban jelas dan pelaku berjumlah 4 orang saja mandek setahun, bagaimana dengan kasus-kasus masyarakat kecil lainnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar