Cahaya Islam di Jerman, Upaya Pengakuan Identitas Muslim di Jantung Eropa

Rahmat Zamzami
Kamis, Februari 26, 2026 | 13:47 WIB Last Updated 2026-02-26T06:47:59Z

JAKARTA | The Lead Institute Universitas Paramadina menggelar webinar bertajuk "ISLAM DI JERMAN: Menjadi Muslim, Perempuan, dan Minoritas" pada Minggu malam (22/2).


Acara ini merupakan tajaan The Lead Institute Universitas Paramadina dengan Maha Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation sebagai bagian dari rangkaian program Ramadhan 2026 bertema besar “Cahaya Islam Lintas Benua”.


Webinar diawali pembacaan tilawah oleh Mahasiswa Filsafat Paramadina, Hasbin Najib dan saritilawah oleh Nurma Syelin Komala, dipandu Ustadz Dida Darul Ulum, Peneliti The Lead Institute Universitas Paramadina.


Webinar mengungkap cerita kehidupan umat Islam di Jerman dari sudut pandang seorang guru muslimah, Dounia Schuler Barkok yang tinggal di jantung Eropa, Frankfurt.


Sukacita perayaan Ramadhan 1446 Hijriah atau 2026 Masehi di Jerman rupanya sama semaraknya dengan meriahnya bulan puasa di Indonesia.


Tahun ini menjadi kali kedua kota metropolitan seperti Frankfurt bermandikan cahaya dengan hias-hias lampu dekorasi bertuliskan “Ramadan Kareem” di jalan-jalan besar, sebuah tradisi yang biasanya hanya identik dengan perayaan Natal.


Semaraknya Ramadhan di Frankfurt dua tahun belakangan menunjukkan kabar positif mengenai meningkatnya kesadaran publik terhadap keberadaan pemeluk Islam di Jerman.


Tantangan terbesar bagi umat Islam Eropa saat ini masih berkutat dengan Islamofobia dan diskriminasi identitas.


“Ini tantangan sekaligus ujian bagi masyarakat muslim Eropa dalam berdakwah, untuk lebih kuat lagi dan lagi,” kata Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini dalam sambutannya.


Selain kehidupan sosial, Didik mengatakan bahwa diskriminasi juga berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat muslim Eropa, misalnya diskriminasi terhadap cara berpakaian atau hijab.


"Meskipun rasisme dan Islamofobia masih dirasakan di Eropa, saya memandangnya sebagai sebuah tantangan untuk mengokohkan jati diri umat Muslim di tengah masyarakat Eropa,” imbuh Didik.


Ketua The Lead Institute, Dr. Phil Suratno Muchoeri memaparkan, Islam telah menjadi agama terbesar kedua di Jerman dengan jumlah pemeluk mencapai 6 juta jiwa atau sekitar 7 persen dari total populasi. Sebanyak 3 juta di antaranya telah menjadi warga negara Jerman.


"Pertumbuhan Islam di Jerman memiliki sejarah panjang, mulai dari gelombang 'Guest Workers' (tenaga kerja migran) asal Turki pada tahun 1950-an hingga gelombang pengungsi konflik Timur Tengah pada 2011-2013,” tutur alumni Universitas Goethe Frankfurt ini.


Saat ini, komposisi Muslim Jerman didominasi keturunan Turki (45%), diikuti Arab (27%), serta Afghanistan dan Iran (19%).


Suratno juga menyebutkan jejak historis Indonesia di Jerman melalui sosok pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman yang kediamannya di Maxen kini menjadi "Masjid Biru" (Das Blau Moschee), simbol kolaborasi seni dan religi.


Tak hanya seni, kontribusi intelektual Indonesia juga diakui secara fundamental di Jerman melalui kiprah Ingenieur B.J. Habibie.


Sebagai warga kehormatan Jerman, Habibie meninggalkan warisan ilmu pengetahuan melalui temuan teori sayap pesawat dan stabilitas kereta cepat yang hingga kini digunakan oleh industri teknologi Jerman.


Berbagi cerita tentang ibadah, Dounia menyebut Ramadan tahun ini terasa lebih mudah karena jatuh pada musim dingin dengan durasi puasa sekitar 11 hingga 12 jam, jauh berbeda jika bulan puasa jatuh pada musim panas yang bisa mencapai 18 jam.


Dounia aktif beribadah di Maroko Mosque, sebuah masjid yang menjadi titik temu jamaah multikultural dari berbagai negara.


“Di masjid, kami melaksanakan shalat Tarawih merujuk pada Mazhab Maliki. Kami juga kerap menyelenggarakan buka puasa bersama yang mengundang tetangga non-muslim untuk turut menikmati hidangan sederhana kiriman para jamaah,” jelasnya.


Namun berbeda dengan Indonesia yang menyediakan ragam nasi kotak, makanan yang disediakan di masjid-masjid Jerman umumnya hanya berupa camilan yang merupakan sumbangan dari jamaah masjid.


Walaupun Frankfurt mulai bersahabat dengan simbol-simbol Islam, Dounia mengungkapkan bahwa di sektor privat, diskriminasi masih menjadi ganjalan besar.


Secara undang-undang pemerintah Jerman menjamin identitas dan kesetaraan hak bagi perempuan Muslim, tapi faktanya masalah Islamofobia, Neo-Nazi dan rasisme, serta stigma Frankfurtistan-sebuah slang politik yang sering digunakan oleh kelompok sayap kanan, kritikus imigrasi, atau penganut teori konspirasi di Jerman-masih terus terjadi.


Sebagai seorang mualaf, Dounia merasa beruntung lingkungan menerima identitasnya. Namun, hal ini tidak berlaku bagi banyak Muslimah lain.


“Faktanya, hanya sekitar 30 persen wanita Muslim di Jerman yang berani menunjukkan identitasnya dengan berhijab di ruang publik atau tempat kerja. Banyak yang terpaksa menyembunyikan identitas demi menghindari diskriminasi,” ungkap Dounia.


Ia menceritakan pengalaman keponakannya yang harus menerima kenyataan pahit ditolak oleh berbagai perusahaan saat melamar kerja hanya karena berhijab, meskipun memiliki kompetensi yang mumpuni.


“Bukan hanya soal hijab, nama-nama yang terdengar ‘Islami’ pun sering kali menjadi sasaran diskriminasi halus dalam proses rekrutmen,” tambah Dounia.


Menutup ceritanya, Dounia menekankan bahwa cara terbaik melawan Islamofobia adalah dengan membangun komunikasi yang hangat.


Salah satu tradisi unik yang dijalankan masyarakat Muslim di lingkungannya adalah berpartisipasi dalam perayaan Natal dengan cara mereka sendiri.


“Setiap tahun, perempuan Muslim di sini dengan sukarela memasak dan membagikan kudapan bagi para lansia di panti jompo saat Natal. Kami ingin menunjukkan bahwa toleransi adalah berbuat kebaikan untuk siapa saja tanpa memandang agama,” kata Dounia.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Cahaya Islam di Jerman, Upaya Pengakuan Identitas Muslim di Jantung Eropa

Tidak ada komentar:

Trending Now

Iklan