![]() |
| Foto: Istimewa |
Hal ini tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi hampir seluruh lapisan masyarakat. Namun, jika dilihat lebih dalam, ternyata tidak semua generasi memiliki kemampuan yang sama dalam menghadapi tekanan ekonomi tersebut.
Hasil riset terbaru dari Sun Life Indonesia menunjukkan adanya perbedaan yang cukup mencolok antara generasi yang lebih tua dengan generasi muda, khususnya Gen Z. Generasi yang lebih senior seperti Baby Boomer cenderung merasa lebih aman secara finansial, sedangkan Gen Z justru berada dalam posisi yang lebih rentan.
Kondisi ini menarik untuk dikaji, karena seharusnya Gen Z memiliki waktu yang lebih panjang untuk membangun masa depan keuangan mereka.
Di sisi lain, inflasi yang terus meningkat membuat masyarakat semakin fokus pada kebutuhan jangka pendek. Banyak orang akhirnya mengesampingkan perencanaan jangka panjang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah masyarakat Indonesia sudah cukup siap menghadapi masa depan finansial mereka?
INFOGRAFIS TEORITIS
Jika melihat data yang ada, terlihat jelas bahwa rasa aman secara finansial masih menjadi sesuatu yang belum merata. Sebagian besar Baby Boomer merasa kondisi keuangan mereka cukup stabil, sementara kurang dari setengah Gen Z memiliki perasaan yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman dan kestabilan ekonomi yang dimiliki generasi sebelumnya masih menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan finansial.
Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya soal perasaan aman, melainkan cara Gen Z dalam mengelola keuangan. Banyak dari mereka yang masih ragu dalam mengambil keputusan finansial, bahkan sebagian memilih untuk tidak mencari bantuan atau nasihat sama sekali.
Padahal, di tengah kompleksitas ekonomi saat ini, keputusan keuangan tidak bisa lagi dilakukan secara asal atau hanya berdasarkan tren.
Menariknya, sebagian Gen Z mulai beralih menggunakan teknologi seperti kecerdasan buatan untuk membantu mereka dalam mengelola keuangan. Ini menunjukkan adanya perubahan pola dalam mencari informasi.
Namun di sisi lain, hal ini juga bisa menjadi indikasi bahwa mereka belum memiliki dasar literasi keuangan yang kuat.
Selain itu, tekanan inflasi membuat sebagian besar masyarakat terpaksa mengubah prioritas keuangan mereka.
Jika sebelumnya perencanaan masa depan seperti pensiun menjadi fokus utama, kini perhatian lebih banyak tertuju pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Hal ini sangat wajar, karena ketika kebutuhan dasar saja sulit terpenuhi, maka perencanaan jangka panjang akan terasa seperti kemewahan.
Sayangnya, perubahan prioritas ini berdampak pada rendahnya kesiapan finansial jangka panjang. Banyak orang belum memiliki rencana keuangan yang jelas, bahkan untuk satu tahun ke depan.
Hanya sebagian kecil yang benar-benar memikirkan kondisi finansial mereka dalam jangka panjang. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan masih perlu ditingkatkan.
Di sisi lain, terdapat perbedaan yang cukup tajam antara kelompok masyarakat yang memiliki ketahanan finansial tinggi dan rendah. Mereka yang memiliki ketahanan tinggi cenderung lebih terencana, aktif mencari informasi, serta tidak ragu untuk berkonsultasi dengan ahli.
Sementara itu, kelompok dengan ketahanan rendah lebih fokus pada bertahan hidup, seperti melunasi utang dan memenuhi kebutuhan dasar.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa ketahanan finansial bukan hanya soal jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga cara seseorang mengelola dan merencanakan keuangannya.
Orang dengan penghasilan yang sama bisa memiliki kondisi finansial yang sangat berbeda tergantung pada pola pikir dan kebiasaan mereka.
Menurut saya, inti dari permasalahan ini terletak pada literasi keuangan. Banyak orang, terutama generasi muda, belum benar-benar memahami bagaimana cara mengelola uang dengan baik.
Mereka cenderung fokus pada konsumsi saat ini tanpa memikirkan dampaknya di masa depan. Ditambah lagi dengan pengaruh media sosial yang sering menampilkan gaya hidup konsumtif, membuat tekanan untuk “terlihat mampu” semakin besar.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin generasi muda akan menghadapi krisis finansial yang lebih serius di masa depan.
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak, baik pemerintah, lembaga keuangan, maupun individu itu sendiri, untuk mulai lebih serius dalam meningkatkan literasi keuangan.
INFOGRAFIS EMPIRIS
![]() |
STUDI KASUS
Alya (23 tahun) adalah fresh graduate dengan gaji Rp4.500.000 per bulan. Awalnya ia merasa cukup secara finansial, namun seiring kenaikan harga kebutuhan dan pengaruh gaya hidup pertemanan, pengeluarannya semakin meningkat.
Sebagian besar gajinya habis untuk konsumsi, sehingga ia tidak memiliki tabungan, dana darurat, maupun rencana keuangan jangka panjang. Ketika ada kebutuhan mendadak, Alya terpaksa menggunakan paylater.
Meskipun menyadari kondisi keuangannya kurang stabil, Alya tidak mencari bantuan profesional dan hanya mengandalkan informasi dari media sosial. Ia juga sempat mencoba aplikasi keuangan, tetapi tidak konsisten.
Akibatnya, Alya mengalami kesulitan keuangan dalam jangka pendek dan berisiko menghadapi masalah finansial yang lebih serius di masa depan. Kasus ini menunjukkan bahwa rendahnya literasi keuangan, tekanan inflasi, dan gaya hidup konsumtif menjadi tantangan utama bagi ketahanan finansial generasi muda.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketahanan finansial masyarakat Indonesia masih menghadapi banyak tantangan, terutama di kalangan generasi muda. Perbedaan antar generasi menunjukkan bahwa pengalaman dan kebiasaan dalam mengelola keuangan sangat berpengaruh terhadap kondisi finansial seseorang.
Tekanan inflasi dan kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat banyak orang terpaksa mengutamakan kebutuhan jangka pendek, sehingga perencanaan masa depan menjadi terabaikan. Hal ini tentu menjadi masalah serius jika tidak segera diatasi.
Menurut saya, solusi utama dari permasalahan ini adalah peningkatan literasi keuangan. Tanpa pemahaman yang baik tentang pengelolaan keuangan, sulit bagi seseorang untuk mencapai kestabilan finansial, bahkan jika mereka memiliki penghasilan yang cukup.
Ke depan, generasi muda perlu lebih sadar bahwa membangun masa depan finansial bukan hanya tentang seberapa besar penghasilan, tetapi juga bagaimana cara mengelolanya.
Jika kesadaran ini mulai tumbuh, maka peluang untuk mencapai ketahanan finansial yang lebih baik akan semakin terbuka.
Penulis: DINDA AYU LESTARI FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi




Tidak ada komentar:
Posting Komentar